3 Prinsip Dasar Perhitungan Imbalan Kerja

Setiap perusahaan, mulai dari skala kecil hingga besar, wajib memberikan imbalan kerja kepada karyawan. Imbalan kerja dalam bentuk apa pun memainkan peranan penting untuk menarik talenta baru dan menjaga retensi tenaga kerja.

Namun, imbalan kerja tak serta-merta diberikan tanpa perhitungan dan pertimbangan matang. Agar situasi dan kondisi finansial perusahaan tetap stabil, perhitungan imbalan kerja harus dilakukan dengan memegang prinsip-prinsip dasar.

Berikut adalah pembahasan seputar pengertian, klasifikasi, serta prinsip-prinsip dasar dalam menghitung imbalan kerja yang perlu Anda ketahui.

Pengertian dan Klasifikasi Imbalan Kerja

Pada dasarnya, imbalan kerja adalah keseluruhan bentuk imbalan yang diberikan oleh suatu perusahaan kepada tenaga kerja yang telah memberikan jasanya. Imbalan kerja dihitung dan diungkap berdasarkan aturan PSAK 24 (Pernyataan Standar Akuntansi 24) yang dikeluarkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK).

PSAK 24 mengklasifikasikan imbalan kerja ke dalam 4 kategori, antara lain,

1. Imbalan Kerja Jangka Pendek (Short Term Employee Benefits)

Kategori ini merupakan imbalan kerja yang memiliki tenggat sampai 12 bulan setelah pelaporan mencapai masa akhir ketika tenaga kerja memberikan jasanya. Beberapa contoh dari imbalan kerja jangka pendek, yaitu gaji, cuti sakit, cuti tahunan, iuran jaminan sosial, serta pembagian bonus dan laba.

2. Imbalan Pasca-kerja (Post Employment Benefits)

Imbalan pasca-kerja merupakan imbalan terutang yang diberikan kepada tenaga kerja setelah periode kerjanya selesai. Beberapa contoh dari kategori ini, antara lain, tunjangan kesehatan pensiunan, tunjangan pensiun, serta asuransi jiwa pasca-kerja.

3. Imbalan Kerja Jangka Panjang (Long Term Employee Benefits)

Kategori imbalan ini memiliki tenggat lebih dari 12 bulan setelah masa pelaporan berakhir ketika tenaga kerja memberikan jasanya. Contoh-contoh dari imbalan kerja jangka panjang, yakni penghargaan masa kerja berupa uang tunai atau berharga, serta cuti besar atau panjang.

4. Pesangon Pemutusan Kontrak Kerja (Termination Benefits)

Imbalan kerja terutang ini dikeluarkan sebagai akibat dari dua hal. Pertama, akibat dari perusahaan yang memutuskan untuk memberhentikan tenaga kerja sebelum mencapai umur pensiun normal. Kedua, akibat dari tenaga kerja yang menerima pesangon PKK sebagai imbalan atas terjadinya pemutusan hubungan kerja.

3 Prinsip Dasar Perhitungan Imbalan Kerja menurut PSAK 24

Berikut adalah prinsip-prinsip dasar menurut PSAK 24 yang harus dipegang teguh dan diterapkan saat menghitung imbalan kerja.

1. Pengakuan Imbalan Kerja

Berdasarkan prinsip ini, suatu perusahaan wajib mengakui adanya imbalan kerja sebagai beban dalam periode tertentu yang perlu dibayarkan untuk memenuhi hak-hak tenaga kerja.

2. Pengukuran Imbalan Kerja

Prinsip ini mengukur pengeluaran wajar yang perlu dikeluarkan untuk membayar imbalan kerja yang diharapkan. Prinsip pengukuran akan mempertimbangkan jenis-jenis imbalan, seperti imbalan kerja jangka pendek, imbalan kerja jangka panjang, dan imbalan pasca-kerja.

3. Pengungkapan Imbalan Kerja

Perusahaan yang memperhitungkan imbalan kerja harus memegang prinsip pengungkapan. Prinsip ini mengungkap informasi tertentu yang berkaitan dengan program imbalan kerja dalam pelaporan finansial perusahaan. Informasi yang diungkap dapat berupa nilai wajar liabilitas program ataupun biaya, skala, dan karakteristik program imbalan kerja.

Prinsip pengungkapan yang diterapkan berdasarkan PSAK 24 membantu menjamin keakuratan informasi pengeluaran imbalan kerja dalam laporan keuangan entitas. Selain itu, prinsip ini juga membantu berbagai pihak, seperti kreditur, karyawan, dan investor, dalam menilai sikon dan kinerja keuangan suatu perusahaan.

Perhitungan imbalan kerja perlu didasarkan pada prinsip pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan, sesuai yang tertera dalam PSAK 24. Dengan begitu, kestabilan finansial perusahaan akan tetap terjaga. Bukan itu saja, memperhitungkan imbalan kerja secara akurat juga dapat menciptakan citra perusahaan yang positif di mata karyawan, investor, maupun kreditur.

No comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *